Kenapa Harus Resign?

24 02 2009

Akhir februari ini saya memutuskan untuk resign dari Kantor (baca: pabrik) tempat saya bekerja sekarang. Bukan tanpa perhitungan yang matang, tapi setelah saya bertirakat selama 6, 666 hari di Gunung Merapi (lebay) saya merasa semakin yakin untuk mengundurkan diri.

Sempat terjadi perbincangan yang ngalor-ngidul ketika saya mengutarakan niat saya kepada Manager saya.  Dan salah satunya, muncul pertanyaan standar ketika seorang karyawan mengutarakan niatnya untuk resign : “Kenapa mau resign? masalah gaji?Kalo iya, nanti bisa saya usahakan bla3x…” . Maaf pak, ini bukan hanya masalah Gaji (Saya tidak bilang bukan, tapi bukan hanya)…Lalu kenapa??? Here we go :

  • Memang sudah strategi karir, saya bekerja disini hanya sebagai batu loncatan
  • Saya merasa, segala hal yg saya harapkan  & inginkan tidak akan (sulit sekali) untuk bisa terwujud disini. Pikiran saya semakin terbuka ketika saya curhat dengan seorang teman kosan, sebut saja Pak Ahyar (kayak di berita-berita kriminal gak sih?). Ketika saya cerita permasalahan pada point ini, beliau bilang: “Wajar, perusahaan tempat kamu bekerja itu bukan perusahaan IT. Jadi, mau tidak mau IT disana hanya sebagai supporting, which is mean…akan mendapatkan prioritas yang “ala kadarnya”. Jadi, kamu gak akan bisa mendapatkan semua yang kamu harapkan layaknya di perusahaan IT”. Great!!Terimakasih Pak atas nasehatnya…
  • OK, saya jujur. SALARY! Salary yang saya dapat disini terasa semakin pas-pasan saja untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Gaji habis untuk bayar kos-kosan, makan selama sebulan+sedikit refreshing, bensin, setor uang arisan 1 & setor uang arisan 2 :p Selama +- 1,5 tahun ini, apa yang sudah saya dapat? itu yang merubah pikiran saya untuk beranjak mencari yang lebih, lalu kapan pencarian saya akan berakhir? Bukankah manusia hanya ingin terus lebih-lebih dan lebih?? Sampai saya mendapatkan pekerjaan yang benar-benar saya cintai, sehingga dalam melaksanakannya saya tidak akan lagi peduli berapa bayaran yang akan saya dapatkan..
  • Rutinitas pekerjaan saya sekarang cukup mengganggu rutinitas keagamaan yang biasanya saya jalankan.
  • Selebihnya, memang ada masalah-masalah lain yang lebih bersifat personal, yang saya kira tidak perlu untuk saya ceritakan disini.

Saya sudah siap dengan segala resiko akan keputusan yang saya ambil ini. Ya, saya sudah siap. InsyaAlloh…Tapi saya percaya akan perumpamaan ini : “Ketapel itu harus ditarik dulu, baru kemudian kerikilnya bisa melesat jauh“.  Ya, kadang kita memang butuh untuk mundur beberapa langkah, untuk kemudian maju 100 langkah.

Life is a choice, you rules your life or life rules you!

Advertisements